Jumat, 10 Oktober 2014

Tanpa Judul

Anda punya keluhan?
Ane punya solusi nih....
langsung saja ya gan yang berminat hubungi 081-915-033-663.

Anakku, Ibu sangat mencintaimu, meski.....

Anakku, Ibu sangat mencintaimu, meski engkau membenciku... Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya karena menurutku ini sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di SD sekolahku demi membiayai kebutuhan keluarga. Suatu hari ketika ibuku datang ke sekolah, Aku sangat malu. Mengapa ia melakukan ini? Mengapa ia muncul dihadapan teman2 SD ku? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan akupun lari menjauh. Keesokan harinya di sekolah, “ hei ! Ibumu hanya punya satu mata?!?!” tolooong..!, jerit seorang temanku ketakutan. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi ! Suatu kali aku berkata pada ibu, “Ibu. Mengapa ibu hanya punya satu mata? Mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!” Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Ibu tidak memarahiku atau menghukumku, dan aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya saat itu sangat terluka karenaku. Malam itu.. Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Aku memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu tanpa perduli. Sebenarnya akibat perkataanku tadi siang, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku tetap membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya!. Jadi aku berkata dan berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses. Sejak saat itu aku belajar dengan tekun. Hari-hari kulalui dengan semangat untuk mengejar impianku sampai suatu ketika kutinggalkan ibuku dan pergi ke luar kota untuk menuntut ilmu. Setelah sekian waktu aku pun menikah dengan wanita cantik idamanku yang selalu mengagumi ketampananku, aku mampu membeli rumah dan kemudian akupun memiliki anak yang tampan dan cantik. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses ! Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus, terus dan terus, sampai suatu ketika seorang perempuan tua berada didepan rumahku..... Hah?! Siapa ini?! Itu ibuku! Masih dengan satu matanya!. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata perempuan tua di depan rumahku... Kataku, “Siapa kamu?! Aku tak mengenal dirimu!!” Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, “Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku!!” “KELUAR DARI SINI! SEKARANG JUGA!!” Ibuku hanya menjawab perlahan, “Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat,” dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega. Sungguh sungguh lega.... Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku. Untuk menghadirinya aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke kota asalku. Setelah reuni berakhir, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu ketika aku kecil aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan perempuan yang tidak lain adalah ibuku tergeletak dilantai yang dingin. Namun aku tak sedikitpun meneteskan air mata. Ada selembar kertas di tangannya. Ternyata sepucuk surat untukku. “Anakku.... Kurasa hidup ibumu ini sudah cukup lama dan melelahkan.. dan..aku tidak akan pergi ke rumahmu lagi.. Namun apakah berlebihan jika aku, ibumu ini, ingin kau menjengukku sesekali saja? Aku sangat merindukanmu anakku. Dan aku sangat gembira ketika tahu engkau akan datang ke undangan reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolahmu. Demi engkau anakku.. agar engkau tidak menanggung malu lagi dan aku benar-benar minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku. Anakku, Kau tahu, ketika engkau masih sangat kecil, engkau mengalami kecelakaan, terjatuh dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu anakku... Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, tentu dengan mata itu. Aku sungguh tak pernah sekalipun marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku yakin sepenuhnya dan berkata dalam hati, “Itu karena ia mencintaiku”... Anakku! Oh, anakku!”..